Tak Berkategori

Tiga Kabar Duka

Ada tiga kabar duka yang aku terima beberapa pekan ke belakang. Kabar duka beraroma malaikat Izrail. Kabar duka dengan mendung yang mengiringinya.

Kabar duka pertama datang dari seorang pemuda calon suami kerabat suamiku. Dijemput Izrail di rumah sakit setelah sebelumnya mengalami kecelakaan tunggal saat akan berangkat kerja. Padahal tepat dua pekan lagi beliau rencananya akan akad nikah. Semua sudah 80% siap. Tapi Allah ternyata menentukan lain.

Kabar duka kedua dari Kapuas. Kakek tetangga mertua, yang juga kerabat dari ayah, berpulang. Beliau sebelumnya sakit menahun. Diawali dengan patah tulang akibat kecelakaan yang tak bisa 100% sembuh karena faktor usia. Kemudian diiringi dengan berbagai penyakit lain setelahnya.

Kabar duka terakhir datang dari kenalan suamiku. Beliau ini koki muda di sebuah cafe. Kenal dengan suamiku karena menjadi pelanggan tetap toko parfum kami. Sehari sebelum maut bertandang, si koki muda ini berpamitan pulang ke Surabaya. Pindah kerja. Lantas foto kisah di WA-nya silih berganti. Ia pajang foto sesaat sebelum ke Surabaya, ketika berada di pesawat, juga aktivitasnya setelah di Surabaya. Terakhir tiba-tiba terpajang fotonya sedang terbaring di rumah sakit lengkap dengan alat pernapasan buatan. Suamiku bingung. Lantas mengirim satu pesan yang dibalas beberapa jam kemudian dengan sebuah kalimat pendek. “Sudah meninggal ka.” Hanya itu. Tapi cukup membuat kaget. Hampir tak percaya. Setelahnya nomor handphone yang bersangkutan nonaktif.

Subhanallah. Demikian hidup ini. Teramat singkat. Muda-tua, sehat-sakit tak ada yang selamat dari jamahan malaikat Izrail. Tapi sebenarnya bukan masalah kapan dan kenapa kita dijemput oleh maut. Yang menjadi hal terpenting dari semuanya adalah seperti apa kita saat dijemput. Berhasil khusnul khotimah kah? Atau jangan-jangan su’ul khotimah? Naudzubillah min dzalik.

Semoga kita, aku dan kamu yang membaca ini, beserta orang-orang yang kita sayang meninggalkan dunia dalam keadaan beriman kepada Allah. Semoga lidah kita tak kelu untuk membaca tahlil sebagai bukti iman dan cinta kita kepada Rabb Sang Pencipta. Wallahu a’lam bishawab.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr 27-30)

🖇Image source: pixabay.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s