Tak Berkategori

Razan dalam Pusaran Konflik Palestina

(Mohon maaf sebelumnya jika opini di bawah ini cenderung bersifat subjektif. Tapi inilah caraku memandang konflik yang terjadi di Palestina.)

Gaza berduka hari itu. Duka yang dengan cepat menyebar ke hati kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia. Tepat di hari Jum’at ketika Ramadhan telah memenuhi bilangan ke-16. Ribuan orang memadati jalan demi mengantar sesosok tubuh yang diselimuti bendera Palestina ke pembaringan terakhirnya. Tubuh itu milik Razan al-Najjar.

Usianya masih terhitung belia. Baru menginjak 21 tahun. Namun Razan telah memutuskan untuk terjun ke medan konflik untuk membela Palestina sebagai tenaga medis. Ia bergabung menjadi sukarelawan di bawah naungan Palestinian Medical Relief Society (PMRS).

Mengenai alasannya, Razan dengan tegas mengemukan sendiri saat diwawancarai Al Jazeera pada bulan April lalu. Razan mengatakan, “Saya akan merasa sangat malu kalau saya tidak ada untuk (membantu) warga Palestina. Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya untuk ada di sini dan membantu mereka yang terluka.”

Namun hari itu Razan tak pernah menyangka jika dua atau tiga peluru panas akan menembus punggungnya dan mengantarkannya pada kematian. Sniper perempuan Israel bernama Rebecca disebut-sebut sebagai pelakunya. Perempuan berhati beku itu tak peduli meski Razan kala itu berlari dengan menggunakan jas putih berlambang bulan sabit dan palang merah seraya mengangkat kedua tangannya. Ya, apa pedulinya pada nyawa rakyat Palestina. Kebencian telah menyempurna menguasai jiwanya.

Ditembaknya Razan al-Najjar benar-benar menyentak dunia. PBB pun mau tak mau mengeluarkan pernyataan mengecam perbuatan Israel itu. Tentu saja demikian. Karena jelas hal tersebut melukai hukum internasional, utamanya Konvensi Jenewa, yang menyatakan bahwa menembak tenaga medis adalah kejahatan perang.

“Pekerja medis bukan sasaran! Saya mengucapkan belasungkawa kepada keluarga Razan al-Najjar. Warga Palestina di Gaza sudah sangat menderita,” tulis Utusan PBB untuk Timur Tengah, Nickolay E. Mladenov, seperti dikutip dari DW.

Kecaman juga datang dari organisasi Bulan Sabit Merah Turki atau Kizilay. “Kami mengutuk keras pembunuhan perawat Palestina Razan Najjar yang sedang bertugas di Jalur Gaza,” tulis Kizilay di Twitter.

Tapi apa gunanya kecaman demi kecaman itu? Pada akhirnya hanya sebatas kecaman yang tak akan memberikan kontribusi apa-apa untuk Palestina.

Bukankah sebelumnya telah banyak rentetan kejahatan perang yang telah dilakukan Israel. Salah satunya yang menghebohkan dunia adalah operasi militer Israel di Jalur Gaza selama 6 hari beberapa tahun silam. Operasi militer yang lebih tepatnya disebut sebagai pembunuhan massal alias genosida. Peristiwa yang terus terang memaksa diriku untuk membuka mata tentang apa yang terjadi di bumi para Nabi, Palestina.

🌼🌼🌼

Sepanjang yang kuketahui, konflik Israel-Palestina berlangsung sejak awal abad 20. Sebelumnya, di bawah kekhilafahan Ustmani, Palestina merupakan tempat yang aman untuk setiap orang apapun agamanya. Karena Rasulullah saw sendiri mengajarkan agar saling menghormati dengan sesama meskipun berbeda keyakinan.

Namun setelah gerakan zionisme terbentuk dan Inggris mencanangkan deklarasi yang dianggap sebagai janji memberi “tanah air” untuk Yahudi di Palestina, konflik pun bermula. Mereka menggunakan kesempatan untuk mengambil alih Palestina ketika kekhilafahan Ustmani di Turki runtuh.

Terjadi migrasi besar-besaran bangsa Yahudi dari berbagai penjuru dunia. Kemudian mereka mengumumkan berdirinya Negara Israel secara sepihak. Mereka seperti kanker yang sengaja ditanam di jantung kaum Muslimin. Menyebar cepat dengan mengerikan.

Dari tahun ke tahun wilayah yang dikuasai Israel semakin meluas. Bukan tanpa korban. Ada darah dan air mata di sana. Dunia seakan menutup mata. Sementara bangsa Arab seolah tak berdaya. Apalagi bukan rahasia kalau Israel didukung penuh oleh Amerika Serikat yang memposisikan diri sebagai polisi dunia saat ini.

Berdasarkan beberapa referensi yang kubaca, secara historis Palestina memang merupakan hak kaum Muslimin. Penduduk asli Palestina terdiri dari dua suku asli Arab yaitu suku Finiqiyun dan Kan’aniyun. Sedangkan Yahudi masuk ke Palestina bersama Nabi Musa as. Setelah Khalifah Umar bin Khattab mengambil alih kunci Baitul Maqdis dengan damai setelah membebaskannya dari penjajahan Byzantium pada tahun 636 M, seluruh anggota kedua suku tersebut masuk Islam. Kaum Yahudi pun secara alami tersingkir dari Palestina karena menolak Islam. Meskipun masih ada yang bertahan di Palestina dengan perlindungan penuh dari kekhilafahan.

Selain itu, Palestina merupakan tempat berdirinya Masjid al-Aqsha. Tempat mulia ketiga bagi kaum Muslimin setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Allah berulang kali menyebut Masjid al-Aqsha dalam Al Qur’an. Dalam hadits Rasulullah saw pun demikian. Salah satunya Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Bukhari: “Janganlah sengaja memaksakan perjalanan (ibadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasulullah saw (Nabawi), dan Masjid al-Aqsha.”

Aku secara pribadi tentu saja memastikan diri untuk berada di pihak yang mendukung pembebasan Palestina. Teriring doa dan harapan untuk Palestina, semoga Allah swt membebaskan Palestina dan Masjid al-Aqsha dari belenggu musuh-musuhNya. Dan semoga kita dapat turut berkontribusi dalam pembebasan Palestina. Aamiin.

#KelasMenulisZodia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s