Tak Berkategori

Cita-cita

“Mama, aku mau jadi tentara yang hafidz Qur’an!” Seru Husain. Semangat sekali. Itu saat Mama melangkah naik ke lantai atas. Husain sedang asyik menonton tv. Mama agak bingung. Kok, tiba-tiba bicara begitu.

“Aamiin. Semoga benar-benar menjadi seorang hafidz Qur’an,” sahut Mama.

🌟🌟🌟

Cita-cita Husain memang masih berubah-ubah. Sebelumnya ia pernah bilang ingin menjadi pemadam kebakaran. Kemudian ia juga pernah tertarik menjadi polisi. Walaupun sempat diam tanpa minat lagi ketika tahu kalau Pak De (kakak ipar Suami) seorang polisi. Entah Husain mikir apa. 😅😅😅

Saya jadi teringat masa kecil. Dulu saya pernah punya cita-cita menjadi seorang astronot. Saya suka sekali buku-buku tentang rahasia antariksa. Sempat bingung membedakan antara astrologi dan astronomi.

Beranjak remaja, cita-cita saya berubah menjadi lebih realistis. Menyesuaikan dengan hobi saya, yaitu membaca buku dan menulis diary. Saya tertarik menjadi seorang wartawati. Oya, saya juga menambahkan guru Bahasa Indonesia sebagai alternatif cita-cita saya jika sudah dewasa.

Perjalanan hidup bersama sang waktu adakalanya sejalan dengan ekspektasi masa kecil. Saya pernah bersama kawan-kawan semasa kuliah menggawangi terbitnya minimagz. Hal yang tak jauh dari cita-cita saya menjadi wartawati. Masih dalam ranah literasi.

Saya juga pernah mengabdi menjadi seorang guru. Bukan guru Bahasa Indonesia. Tapi tetap dalam ruang lingkup dunia guru.

Dan setelah semua pencapaian itu, saya ringan saja ketika harus melepasnya. Padahal itu cita-cita masa kecil saya.

Hingga hari ini. Ketika saya membuka mata di pagi hari dan harus menerima realita bahwa saya ternyata hanyalah seorang ibu rumah tangga. Berjibaku dengan bumbu dapur, tumpukan pakaian kotor dan juga rengekan bocah-bocah. Semua passion hidup saya, kecuali dunia literasi, bukanlah menjadi prioritas lagi. Tapi saya tidak menyesal.

Saya akhirnya memahami bahwa mestinya bukan dunia yang menjadi ruh penyemangat dalam menjalani kehidupan. Saya masih punya kehidupan kedua. Karenanya, apapun profesi yang saya geluti, saya harus tetap berfokus pada bagaimana kehidupan kedua saya kelak. Satu kehidupan setelah kematian.

Maka saya pun memproklamirkan cita-cita baru. Cita-cita yang insya Allah tidak akan berubah-ubah lagi.

Saya ingin sekeluarga sesurga. Allahumma aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s