Tak Berkategori

Tumpukan Buku Itu

Punya buku yang harus dibaca meski tak suka? Aku tak punya. Untuk saat ini aku cenderung memilih bebas. Bebas menentukan buku apa saja yang mesti kubaca. Tentunya buku pilihanku itu yang aku sukai. Untuk buku yang aku tak berminat terhadapnya akan aku tinggalkan di lemari. Bersama deretan buku lainnya.

Tapi dulu, beberapa tahun ke belakang, aku punya tumpukan buku yang harus kubaca meskipun aku tak suka. Tumpukan buku itu menemaniku menyelesaikan masa mahasiswaku di jurusan Pendidikan Matematika.

Mungkin banyak yang tak menyangka kalau aku sebenarnya alumni Pendidikan Matematika UPR. Tidak tercermin dari tampang, pola pikir juga tulisanku. Apalagi keseharianku sekarang. Tapi itulah faktanya.

Aku mulai tertarik dengan pelajaran Matematika sejak kelas XI semester genap di SMA. Saat itu nilai-nilaiku yang awalnya sering anjlok mendadak mengalami perbaikan. Sebenarnya sih itu karena aku kebetulan dekat dengan seorang teman yang jago Matematika. Maka berbagai kemudahan memahami angka-angka di buku teks pun kudapatkan. Hingga aku merasa benar-benar berminat dan mantap memilih jurusan Pendidikan Matematika di bangku kuliah.

Rupanya minat saja tidak cukup. Dunia kampus jauh berbeda dengan masa putih abu-abu. Berjibaku dengan Matematika akhirnya membuatku sadar bahwa aku ternyata tak punya bakat di bidang hitung-hitungan. Apalagi aku terjerumus riang ke salah satu ormas yang bergerak di bidang sosial politik. Semakin jauhlah aku dari hitung-hitungan.

Tapi amanah dan tanggung jawab untuk menyelesaikan studi di Pendidikan Matematika harus dipenuhi. Maka berusahalah aku menyempurnakan semangat untuk berjuang. Ditemani tumpukan buku penunjang dan diktat yang harus kubaca dan kupelajari, meskipun sebenarnya aku tak suka.

Tumpukan buku itulah yang selanjutnya tetap setia berada di kamar kostku. Membersamai hari-hariku. Dengan slogan yang tak putus-putus aku dengungkan untuk diriku sendiri. Slogan dari kutipan lagu Thufail Al Ghifari, bahwa bersama Allah semua pasti teratur. Hingga alhamdulillah tepat di tahun kelima aku berhasil meraih gelar sarjana dengan nilai yang tidak terlalu mengecewakan.

Sekarang tumpukan buku itu sebagian besar sudah aku hibahkan untuk adik tingkat. Beberapa masih ada di kardus. Nyaris tak tersentuh lagi. Namun walau bagaimanapun tumpukan buku itu merupakan penanda.

Tumpukan buku itu menjadi penanda sebuah pelajaran besar dalam hidupku. Pertama aku akhirnya faham bahwa minat saja tidak cukup untuk menentukan pilihan studi maupun pekerjaan. Bakat juga diperlukan. Sebuah kesimpulan penting untuk bahan pertimbangan anak-anakku kelak.

Kedua penanda bahwa aku pernah berjuang demi hal yang aku sebut amanah dan tanggung jawab. Ya, amanah dan tanggung jawab memang harus diselesaikan. Seperti apapun beratnya. Insya Allah dalam setiap kesungguhan akan ada banyak jalan yang dibukakan Allah.

Bersama Allah semua pasti teratur.

Image by: pixabay.com

Iklan

4 tanggapan untuk “Tumpukan Buku Itu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s