Keluarga

Membaca Buku untuk Husain

(Sepekan Membersamai Ananda [5])

“Mama, tolong bacakan buku ini,” pinta Husain. Kali ini buku Aku Anak yang Berani 2 di tangannya.

Mama baru saja rebahan.

“Nanti aja ya Nak saat mau tidur,” sahut Mama. “Mama mau istirahat dulu.”

Husain tetap ikut rebahan di samping Mama.

“Mama, ini judulnya apa?” tanya Husain.

“Si peniru ulung,” baca Mama.

Husain membuka halaman berikutnya. “Kalau ini bacaannya apa?”

“Lho, kan Mama tadi bilang bacanya saat mau tidur?”

“Aku sudah ngantuuuk.”

“Kalau begitu kita gosok gigi dulu baru baca buku.”

๐Ÿ“–๐Ÿ“–๐Ÿ“–

Aku sudah bisa membaca sejak masih kecil. Sekitar usia 5 tahun. Tapi aku lupa persisnya sejak kapan aku menyukai aktivitas membaca. Seakan terjadi secara alamiah.

Seingatku, dulu ibu memberi dukungan penuh pada kegemaranku membaca. Ibu rutin membelikan majalah anak tiap bulan saat beliau menerima gaji.

Membaca inilah yang kemudian menjadi salah satu pilihan aktivitasku untuk membersamai Husain. Awalnya sih iseng aja. Hanya untuk mengisi waktu saat bersama. Itu pun Husain di usianya menjelang 2 tahun, masih cuek dibacakan buku. Bahkan ada buku yang menjadi bahan percobaan. Alias dirobek-robek.

Namun seiring bertambahnya usia Husain, ia pun pelan-pelan memahami saat aku membacakannya buku. Dan akhirnya rasa cinta pada aktivitas membaca itu terbentuk. Husain, pada usia menjelang 5 tahun ini, hampir tak pernah melewatkan harinya tanpa meminta dibacakan buku.

Kami pun membuat satu kesepakatan tidak tertulis. Yakni penentuan jadwal wajib membaca sebelum tidur. Terutama tidur malam. Biasanya Husain yang memilih cerita pertama yang ingin ia dengar. Untuk cerita berikutnya, ia setuju aku yang menentukan.

Aku baru menyadari bahwa ternyata aktivitas membaca buku untuk anak ini banyak manfaatnya setelah membaca beberapa artikel parenting. Berikut di antaranya.

๐Ÿ“Menstimulus kemampuan bahasa dan berpikir,

๐Ÿ“Sarana mempererat hubungan antara anak dan orang tua,

๐Ÿ“Membangun kebiasaan membaca,

๐Ÿ“Menambah wawasan,

๐Ÿ“Menanamkan nilai-nilai kebaikan

Untuk kemampuan bahasa, alhamdulillah Husain termasuk anak yang di atas rata-rata. Husain sudah pandai berkomunikasi dua arah dengan baik.

Sedangkan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, itu menjadi target utamaku sebenarnya. Terutama nilai tauhid dan adab yang selalu berusaha aku selipkan. Semoga menjadi salah satu upaya yang dapat mengantarkan anak-anakku pada ketakwaan. Aamiin ya Allah.

Oya, satu lagi yang mau aku tulis. Yakni tentang belajar membaca. Aku memang sengaja belum benar-benar mengajari Husain membaca saat ini. Aku sepakat dengan pendapat yang bilang bahwa untuk anak usia dini hal yang terpenting bukan pandai membaca. Tapi mengajak anak cinta pada aktivitas membaca terlebih dulu. Selanjutnya anak dengan sendirinya akan tertarik untuk belajar membaca. Nah, Husain sepertinya mulai tertarik, nih.

๐Ÿ“–๐Ÿ“–๐Ÿ“–

“Ma, baca.” Kali ini Aziza yang belum genap 2 tahun menyodorkan buku untuk dibaca.

Wah, ada bocah berikutnya. Baiklah. Mama rupanya harus selalu menyiapkan kualitas suara prima.

๐Ÿ“–๐Ÿ“–๐Ÿ“–

Nb. Tulisan ini dibuat untuk mengikuti OWOB Writing Challenge dengan tema “membaca” sekaligus memenuhi janji menulis selama sepekan pada diri sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s